Tampilkan postingan dengan label East Java. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label East Java. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2019

Mendaki Gunung Lewati Lembah - Perjuangan Menuju Coban Rais

Kamu tipe yang lebih suka berpetualang di alam atau kota besar gaes? Kalau kamu suka yang alami-alami, bisa nyobain liburan ke destinasi satu ini nih. Alam Indonesia itu gak main-main gaes, indah banget! Salah satunya Coban Rais yang terdapat di Malang ini. Kalau berangkat dari Kota Malang, kamu tinggal menempuh perjalanan darat dengan mobil selama 1 jam, lalu dilanjutkan perjalanan menuju Coban Rais di Kota Batu selama 30 menit. Sepanjang jalan kamu bisa nikmati suasana kota Malang yang indah dan banyak tempat-tempat wisata yang menarik. Gak heran sih kalau Kota Malang dijuluki dengan "Kota Wisata" karena memang dipenuhi berbagai tempat wisata seperti pantai, gunung, taman bunga, hingga taman bermain ada disini.

Ceritanya aku pun tiba di tempat wisata Coban Rais, tapi untuk sampai di air terjun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 5 km karena gak ada akses untuk kendaraan gaes. Jadi bagi kamu kamu kamu yang nanti ingin kesini jangan lupa sarapan dulu ya! Banyak kok disekitar pintu masuk menuju Coban Rais yang menjual makanan khas Jawa Timur seperti rawon, bakso Malang, sampai tahu campur. Dari pintu masuk aku udah menghela napas panjang karena udara disini segar banget. Terus diperjalanan juga nanti kamu akan melewati kawasan Batu Flower Garden yang indah banget dipenuhi dengan taman bunga serta berbagai spot berfoto. Sebaiknya sih kamu datang pagi hari banget, soalnya kalau nyampe siang disini bakalan ramai banget, buat foto aja sampai ngantri. 

Bunga-bunga yang bermekaran disekitar Batu Flower Garden

Oke perjalanan pun dilanjutkan dengan jalan setapak ke wilayah hutan. Kaget banget gaeeees, karena ternyata medan menuju air terjun tergolong cukup ekstrim. Jalanannya mendaki, sempit, licin, menyusuri sungai bahkan harus memanjat bebatuan yang ukurannya besar dan sebagian sudah ditumbuhi lumut. Saranku sih kamu menyiapkan sepatu khusus agar tidak mudah tergelincir. Namun tetap saja buat aku yang akrofobia ini, berhadapan dengan ketinggian saat mulai mendaki bikin deg degan banget. Tips untuk kamu juga agar memperhatikan cuaca kalau ingin kesini karena jalanan yang dilalui sangat licin jika turun hujan serta perlu mempersiapkan fisik dan mental yang kuat.

Suasana saat mendaki menuju Coban Rais

Sungai yang dipenuhi bebatuan licin

Rimbunnya semak belukar didalam hutan dan keindahan lanskap pegunungan benar-benar membuat terpukau. Riuhnya suara burung-burung dan serangga hutan membuat pikiran menjadi rileks dan tenang. Setelah beberapa menit perjalanan, suara derasnya air terjun sudah kedengaran dari kejauhan.

Daaaaan akhirnya tiba di Coban Rais! Kedatanganku disambut dengan curahan air terjun yang tinggi banget yaitu sekitar 20 meter. Kamu bisa aja mandi di kolam air terjun, tapi air yang ada di sini dingin banget jadi bagi kamu yang gak tahan dingin cukup berada di tepian kolam sambil menikmati panorama disekitar, kayak aku hehe. Banyak kera-kera liar juga yang datang menampakkan diri dengan cara bergelayutan di dahan pohon. 

Coban Rais dengan ketinggian 20 menit dari kejauhan

Yeeaaay tiba di Coban Rais!

Perjalanan yang ditempuh memang menguras tenaga, namun semua terbayarkan dengan udara yang segar dan sejuk serta pemandangan yang super indah. Benar-benar pengalaman yang seru gaes, kalian harus nyobain!

Minggu, 04 Maret 2012

Pengalaman Jadi BACKPACKER Keliling Nusantara (Part II)

Halo, sesuai janji di Part I, jadi aku mau lanjutin ceritanya. Wanita sejati ga pernah ingkar janji dan minum rasa-rasa. Setuju?
Oke, kemarin nyampe mana yak? Bali? Iya bener. Sebenarnya sih masih mau ngelanjutin ke Indonesia bagian Timur tapi berhubung waktunya udah mepet banget buat masuk sekolah awal dikelas 3 jadinya aku urungkan niat buat ke Raja Ampat. Jadi, next stop kali ini di Kertosono tempat saudaraku lebih tepatnya keluarga dari pihak kakek.
Langsung aja yah, kami bergerak dari pagi dengan rute penginapan yang di Kuta menuju Denpasar deket terminalnya (lupa nama terminalnya). Sesampainya di terminal, kami pun naik bis menuju ke Gilimanuk. Sesampainya di gilimanuk, kami sempat ngemper bentar di pelabuhan menunggu ferry untuk menyebrang selama 2 jam.
Singkat cerita, ferry pun datang. Dan tahukan anda? Ketika ferry datang kami langsung diserbu dengan puluhan anak anak. Sempat bingung sih soalnya waktu kesini gak ada yang kaya beginian. Ternyata karena kemarin nyampenya malem dan ini cuma ada di pagi, siang dan sore hari. Aku sempat kaget ngeliat anak-anak terjun dari ferry ke lautan. Ngeri banget dah kalo ingat daku ga bisa renang haha.
“Mbak kasih dong mbak..” katanya dengan muka memelas. Sempat bingung, lalu aku alihkan pandangan ke sudut pelabuhan yang lain. Keliatan disitu bule-bule lagi pada sibuk ngelemparin koin.  Jadi, para turis melempar uang koin ke lautan, terus anak-anak ini akan terjun ke laut lalu berenang buat ngambil koinnya. Salut. Aku bangga sama mereka yang mau bekerja keras kaya gini. Padahal ini sangat beresiko. Kita gatau apa yang ada didalam lautan sana. Mungkin hiu, paus, atau bahkan ular laut (apaan dah) namun yang paling parah adalah baja baja dan kayu yang jadi penyangga pelabuhan. Gak bisa ngebayangin gimana kalo anak-anak itu pada loncat terus kepalanya ga sengaja kebentur tiang penyangga itu. Hiiiii.
Makanya jadi ga tega buat ngelemparin duit ke laut. Jadi kasih aja langsung ke dia. “ini dik, ambil saja” kataku sambil naruh tu duit ketangan dia. “Makasih mbak..” katanya. 
Lanjuuuut! Ferry pun mulai berjalan. Sepanjang perjalanan kami memanjakan mata dengan melihat lautan lepas tak bertepi. Dengan menempuh perjalanan kira-kira 2 jam, kami pun sampai di Ketapang dengan selamat. Dan langsung lari sampai ngos-ngosan biar gak ketinggalan kereta. Setelah nyampe stasiun, kamipun langsung beli tiket. Gak perlu nunggu lama, keretanya udah dateng. Yahh, namanya juga backpacker pasti naiknya yang ekonomi, hahaha. Kalo disini gak perlu khawatir gak dapet tempat duduk, pasti bakalan dapet kok soalnya ini kan stasiun paliiiiiing ujung dari pulau jawa alias pemberhentian terakhir. So, kalau mau berangkat pun pasti keberangkatan paling awal.
Selama dikereta tak begitu banyak yang bisa diceritakan. Buat yang belum pernah ngerasain naik ekonomi harus nyoba! Seru looh, ga kaya bisnis atau eksekutif yang sepi dan hening. Di ekonomi banyak penjual, pegamen, copet bahkan preman yang bekeliaran! Kalian ga bakal pernah bosen selama dikereta. Mau makan ga perlu ke kantin dulu soalnya banyak penjual mulai dari ngejual makanan, mainan, stiker, alat elektronik, alat masak, pulsa, buku, sampai peci dan mukena. Komplit deh! Mau tidur juga ga mungkin karena kalian harus ngejagain barang kalian. Tertidur sebentar aja udah bisa bikin kalian kehilangan barang-barang. Buat tips aja, kalo naik ekonomi jangan berangkat sendirian jadi kalau ketiduran ada yang bangunin. Kalo pergi sendiri cobalah bergaul dengan orang sekitar, diajak ngobrol biar kalian gak kesepian. Biasanya orang ekonomi lebih asik diajak ngobrol daripada orang bisnis maupun eksekutif yang biasanya jual mahal. Aku aja sempat terkagum-kagum. Waktu lagi nonton Barca (kalo ga salah sih lagi lawan MU) pake hape tipi punya abang, ehh penumpang yang lain pada mau ikutan. Bahkan, petugasnya pun ikutan nonton. Jadilah selama dikereta kami nonton bareng satu gerbong walaupun hanya menggunakan hape tipi yang layarnya ga nyampe 4 inci dan penuh semut serta sinyal yang ilang timbul karena keluar masuk hutan. Namun semuanya keliatan bahagia. Apalagi waktu Barca nyetak gol. Semua pendukung Barca di gerbong itu langsung teriak termasuk aku. Udah berasa kaya keluarga aja, kerasa banget kebersamaannya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, kami pun tiba distasiun Kertosono. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Cuma tanteku yang pernah kesini. Masalahnya karena udah lama ga kesini doi jadi lupa dimana rumahnya. Dari stasiun kami naik becak. Dan ajaibnya, kami berhasil menemukan rumahnya.
Tok..tok..tok..
Ga ada yang menyahut, mungkin karena masih pada tidur. Setelah tanteku menelepon orang didalem rumah, akhirnya ada suara pintu kebuka. Dan muncul seorang wanita yang ga terlalu tua, hmm umurnya sekitar setengah abad. Beliau itu budeku. Akhirnya kamipun dipersilahkan masuk. Rumah yang begitu sederhana. Karena udah jam segini, kami semua pun tidur, kecuali aku yang nonton Piala Dunia (kalo ga salah Jerman yg lagi main) sampai pagi, ehehehe.
Paginya, sesudah sarapan, kami diajak untuk berkeliling kebun. Kebunnya terletak disebelah Tanggul Kali Brantas. Ada ubi, jagung, dll. 

lagi dikebun..

Ehm, abis itu ngapain lagi yah? Oya, kamipun mengunjungi rumah tetangga dan saudara lain. Kami datang langsung disuguhi berbagai makanan.
Baiklah, saat sudah larut malam kamipun pulang kerumah, dan tidur untuk melanjutkan petualangan keesokan harinya. Keesokan harinya, sehabis mandi, kami pun sarapan. Uhm, menu hari ini nasi goreng, enak. Abis sarapan, waktunya melanjutkan petualangan. Dengan 2 buah sepeda tua kami menyusuri jalanan di Kertosono. Minum es kelapa, makan tahu bulat, roti, dan lain sebagainya. Kami juga ke pasar buat beli oleh-oleh berupa kuda lumping warna hitam, merah, dan pink haha. Banyak juga sih kerajinan tangan lainnya, ada kipas, lukisan, dll.Sampai dirumah udah sore. Yahh, harus hemat energi buat ngelanjutin perjalanan panjang esok hari. Berat untuk meninggalkan kota ini. Yap! Begitu sederhana, tapi begitu istimewa dan berkesan. Semoga lain waktu bisa main kesini lagi.